Minggu, 30 September 2012

Dekontruksi Pemikiran Sains


Dekontruksi Pemikiran Sains
            Kecenderungan paham filsuf barat dalam pemikiran sains hanya percaya sebatas realitas empiris (nyata, dapat dilihat dan diraba) saja, hal ini mengakibatkan lebih dari 60 persen filsafat barat itu atheis (anti Tuhan). Jika hal tersebut terjadi di UIN sangatlah memprihatinkan. Jadi, seorang ilmuan muslim harus menjadikan realitas empiris tersebut sebagai proses untuk mengenal Tuhannya.
            Begitulah pemaparan Maman Kh sebagai penulis buku dalam acara “Seminar dan Bedah Buku Pola Berpikir Sains Membangkitkan Kembali Tradisi Keilmuan Islam”. Acara yang diadakan di ruang teater lantai 2, Fakultas Sains dan Teknologi (FST), dihadiri oleh Fahmi Amhar sebagai pembedah buku, sekaligus peneliti Bakosurtanal LIPI Bogor dan dosen pascasarjana Universitas Paramadina, Selasa (17/7).
            Maman Kh menjelaskan, “Buku “Pola berpikir Sains” adalah hasil dari serangkaian diskusi yang dielaborasi, ditulis dan didesain dengan memadukan agama dengan sains. Yang di sesesuaikan dengan kebutuhan akademik agar mendorong mahasiswa dalam melakukan penulisan dan  riset, yang mana di dalam desain tersebut bermuara kepada keislaman.”
            Hal pertama yang harus dilakukan adalah dengan merombak terlebih dahulu pemikiran mengenai realitas empiris, agar dapat memadukan sains dan agama. Ilmuan harus berpikir lebih lanjut berdasarkan realitas, empiris kebenaran paling rendah yang harus ditindak lanjuti. Jadi, empiris merupakan bagian dari proses untuk memahami hal-hal yang ghaib,” tambahnya.
            Sedangkan Fahmi Amhar menjelsakan mengenai 5 hubungan sains dan islam. Sains Neo Tradisionalis yaitu menemukan sains di dalam al-qur’an dan hadist dan tanpa mengelaborasikannya terhadap realitas empiris, Islamisasi Sains merupakan kesadaran akan keislaman sains tetapi tidak menghasilkan hal yang baru.
            Sainstifikasi Islam, semua nilai islam yang ada siansnya dan menghasilkan penemuan baru. Sains Islam, didalam sains islam ini agama lah yang mendorong untuk meneliti dengan syar’i, yang terakir  Sains Ittihadi membahas sesuatu yang tidak empiris dan bersifat makro, yang sepenuhnya dasar teeorinya berasal dari islam.
            Entis Somantri selaku ketua pelaksana acara menjelaskan, “Dengan diadakannya acara seminar dan bedah buku ini untuk membangkitkan tradisi islam dan sains, juga mengetahui cara membangkitkan tradisi tersebut. Saya harap, buku pola berpikir sains ini sebagai panduan perkuliahan.”
            “Karena dari segi peserta yang mendaftar sangat antusias, terlihat dari 183 peserta pendaftar dan kapasitas ruangan hanya menampung 150 peserta, Selain dosen dan mahasiswa UIN yang mendaftar sebagai peserta seminar, peserta juga berasal dari IPB, UI, Gunadarma, UNJ, dan guru SMA. Hal itu karena persiapan yang dilakukan 1 bulan sebelum acara, dan pengiklanan pun lewat media sosial,” tambahnya.
            Salah satu peserta Erik Mahfud Fathoni, jurusan Perbankan Syari’ah, semester 4, Fakultas Syari’ah dan Hukum mengatakan, “Dengan diadakannya acara seperti ini sangat menambah wawasan ilmu tentang sains, karena mengaitkan antara tradisi islam dengan ilmu modern saat ini.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar