Balutan
Kapitalisme dalam Kesusastraan Indonesia
Saat ini masyarakat menggandrungi
karya sastra populer, hal itu dapat ditandai dengan banyaknya buku sastra yang
terjual hingga jutaan eksemplar. Sastrawan Indonesia, Radhar Panca Dahana
mengatakan, hal itu tentunya dilirik oleh kaum kapitalis dengan harapan
mendapatkan keuntungan, Selasa (26/6).
“Apapun yang disebut populer, dapat diterima
dari tingkat lapisan masyarakat. Dan setiap lapisan itu merupakan manusia atau
kelompok-kelompok manusia, yang masing-masing individu berbeda pendidikan,
latar belakang, kecenderungan mental, dan kulturnya,” kata Radhar.
Radhar menganalogikan, sastra
populer seperti seseorang yang sedang berenang-renang atau bersampan di
permukaan lautan. Karena sastra populer dapat dengan mudah diterima masyarakat
pada umumnya, semisal jika kita bersampan akan dengan mudah angin membawa tak
tentu arah.
“Sastra bermutu tinggi sendiri
layaknya orang yang menyelam di lautan. Karena itu, sastra ini membutuhkan pembaca
atau apresiator yang mempunyai pemahaman hidup lebih mendalam, sastra yang
menyelam itu kuat dan hanya ikan-ikan besar dan purba yang mampu memakannya.”
ungkap Radhar.
Senada dengan Radhar, Akhmad Zakky, Dosen
Sastra UIN menjelaskan, “Sastra populer merupakan bacaan ringan yang si
pembacanya tidak perlu untuk menelaah kata per kata untuk dimengerti. Selain
itu, sastra yang teknik penceritaan, penokohan, dan unsur-unsur instrinstiknya
dibangun dengan sederhana sehingga memudahkan pembaca,” tambahnya, Senin (9/7).
Sastra Kapitalisme
Radhar
memaparkan, “Akibat sastra di kedalaman itu tidak banyak masyarakat atau publik
yang dapat mengapresiasi dikarenakan sastra tersebut membutuhkan kapasitas
intelektual, spiritual, kultural dari para apresiatornya. Hal ini berdampak
kepada tidak bisa diserap oleh banyak orang, hanya segelintir orang yang
mempunyai kapasitas tersebut.”
“Orang-orang yang membeli novel
Andrea Hirata, novel islami dan sastra populer, oleh kepentingan lain dimanfaatkan,
dengan harapan mendapatkan keuntungan melalui apresiatornya yang banyak. Hal
ini bukan hanya dialami oleh sastra tetapi juga film dan musik,” tambahnya.
“Sastra
dalam kapitalisme berkaitan dengan siapa dan berapa banyak yang mengkonsumsi. Semakin
banyak yang mengkonsumsi, para penganut keuntungan akan tergerak untuk masuk ke
dalamnya. Karena saat ini merupakan zaman konsumtif,” ungkap Radhar.
Sedangkan Akhmad Zakky berpandangan
bahwa sastra dalam kapitalisme itu dunia kesusastraan yang dimasuki pemilik
modal yang besar. Hal itu dapat dilihat dari penerbitan dengan modal yang
besar, memonopoli pasar dengan jaringan toko buku yang berada di mana-mana. “Sedangkan
penerbit kecil harus terseok-seok menerbitkan buku dan mendistribusikannya.
Yang terjadi saat ini kesusastraan
akhirnya menjadi industri yang mengambil keuntungan saja,” kata lulusan S2
Humaniora UI ini.
Penerbitan merupakan, misionaris esensi (refleksi idealisme) dari buku-buku yang
diterbitkan. Namun, penerbitan tidak bisa menggantungkan sekedar pada idealismenya
saja. Akhirnya, terjadi kapitalisme di dunia penerbitan, hal ini berpengaruh
pada kualitas penafsiran karya sastra, diamana orientasi keuntungan menjadi fokus
yang lebih.
Esensi karya sastra tidak
menjadi hal yang penting dalam keputusan menerbitkan sebuah karya. Karya yang di
permukaan lautan pun dapat terbit apabila ada kekuatan modal dibelakangnya.
Penerbit tidak mau mengambil resiko kerugian, apalagi di tengah kondisi
perekonomian bangsa yang semakin tak menentu.
Peran Pemerintah
Radhar
mengatakan, “Kekuatan yang dapat menandingi kapitalisme adalah pemerintah.
Pemerintah harus melakukan pembelaan terhadap karya-karya yang bermutu tinggi. Salah
satu contohnya, dengan mencetak 100.000 eksemplar dan membagikannya ke
perpustakaan.
“Kerena tidak mungkin, misalnya saja
Putu Wijaya, seorang sastrawan harus berjuang sendiri, ya mana kuat? Kecuali
dia mau menyerah pada kehendak pasar dengan membuat karya sastra seperti
romantisme murahan. Ya dia mana mau mending gua
miskin dibanding buat seperti itu,” tegas Radhar.
Selain itu, “Pengubahan pola pikir
harus diubah dari pendidikan yang paling dasar. Di sekolah-sekolah dasar harus
sudah diajari membaca, kemampuan apresiasi dalam pendidikan, memberikan
fasilitas pada penerbit buku sastra yang bermutu,” jelasnya
Senada dengan Radhar, Akhmad Zakky
mengatakan, “Salah satu cara masyarakat tidak terjebak dalam sastra kapitalisme,
dengan memberikan semacam pendidikan sastra yang bertujuan memahami karya
sastra. Tetapi dirinya pesimis hal tersebut bisa terwujud karena saat ini
masyarakat sudah terjerat dalam kapitalisme,”
Dengan
begitu, masyarakat tidaklah salah karena masyarakat membeli buku yang di
inginkannya, sedangkan pemilik modal mampu mempengaruhi pembeli dengan berbagai
media massa. Saat ini seharusnya pemerintah lebih berperan, bacaan apa yang
seharusnya baik dibaca oleh masyarakatnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar